Friday, November 21, 2008

Indonesia, Kalah Lagi...

Melihat pertandingan Grand Royal Cup di Myanmar pada hari ini antara Timnas Indonesia dengan Timnas Myanmar, ada keganjelan di hati yang ga tau mau dilampiaskan kemana. Keganjelan itu muncul karena dalam pertandingan tersebut, Timnas Indonesia yang memiliki peringkat FIFA berada di atas Myanmar tapi pada pertandingan tersebut seakan tidak berdaya. Para pemain Indonesia seperti orang yang tidak memiliki semangat untuk menang, spirit untuk memenangkan kejuaraan tersebut seakan sudah pupus seiring dengan masuknya Indonesia di babak final pada saat mengalahkan Hyundai Ulsan melalui tendangan penalti. Hal ini berbanding terbalik dengan pola permainan yang di peragakan oleh Timnas Myanmar, 2 x 45 menit seakan masih kurang untuk mereka membuktikan bahwa mereka merupakan tim yang pantas untuk menjadi juara dalam kompetisi sepakbola yang diadakan di negara mereka walaupun mungkin alasan tuan rumah bisa menjadi satu alasan pembenar kenapa mereka bisa menjadi seperti itu. Para pemain Myanmar dalam permainan tersebut terlihat sangat menguasai semua lini dari lini belakang, apalagi tengah bahkan lini depan, para pemain Myanmar seakan ingin menunjukan kepada Bambang Pamungkas dkk, bagaimana cara bermain bola yang benar, tidak seperti para pemain Indonesia yang dalam level pertandingan Internasional lebih banyak berjalan kaki dari pada berlari di lapangan hijau.
secara teknis timnas kita berada di atas Myanmar namun ketika hal itu dihadapkan dengan semangat individu personal, kemenangan secara teknis tersebut seakan sirna, semuanya hilang. Mungkin sudah takdirnya timnas kita hanya menang jika bertanding di negeri sendiri itu pun dengan menang WO, seandainya pada saat itu timnas Libya mau meladeni Timnas kita bertanding Wallahualam apakah kita bisa menang atau cuma menjadi spesialis runner up.
Rendahnya spirit yang dimiliki pemain untuk memenangi suatu pertandingan perlu menjadi sebuah catatan penting bagi PSSI dan hal ini perlu menjadi sebuah poin utama untuk penentuan siapa yang menjadi coach timnas, jangan cuma memilih pelatih yang bagus dalam meracik strategi permainan tapi lemah dalam memotivasi anak latihnya apalagi dengan kondisi timnas kita sekarang yang di asuh Benny Dollo yang secara teknis kepelatihan masih belum bisa di katakan piawai membaca dinamisasi pertandingan. Bagaimana mungkin, sudah sangat jelas Indonesia tertinggal namun Bendol tidak merubah skema permainan dan sangat tidak jeli dalam hal pergantian pemain.
tulisan ini, cuma untuk melampiaskan keganjelan yang muncul pasca menonton babak final Grand Royal Cup antara Indonesia VS Myanmar yang berakhir dengan skor 1-2 untuk Myanmar.
Biar apapun hasilnya, Tetap Mendukung Indonesia.
Bravo Indonesia..
Kami tunggu kiprahmu di turnamen Piala AFF di GBK.
Wass.

0 komentar: